Harga Perak Melonjak, Perajin Celuk Tertekan dan Produksi Terancam

Berita5 Dilihat
banner 468x60

Kenaikan harga perak yang menembus kisaran Rp700.000 per gram memberi tekanan berat bagi para perajin perak di Desa Celuk, Kabupaten Gianyar. Lonjakan harga bahan baku tersebut membuat sebagian perajin terpaksa menghentikan sementara aktivitas produksi, karena biaya produksi dinilai tidak lagi sebanding dengan daya serap pasar. Kondisi ini menjadi pukulan serius bagi sentra kerajinan perak yang selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu ikon kriya Bali dan menggantungkan penghidupan warganya pada sektor tersebut.

Sejumlah perajin mengungkapkan, kenaikan harga perak terjadi dalam waktu relatif singkat dan sulit diantisipasi. Akibatnya, modal usaha yang sebelumnya cukup untuk memproduksi beberapa item kini hanya mampu menutup sebagian kecil kebutuhan bahan baku. Bagi perajin skala kecil dan rumah tangga, situasi ini sangat memberatkan karena perputaran modal menjadi tersendat. Banyak bengkel kerja yang biasanya aktif setiap hari kini terlihat sepi, dengan aktivitas produksi yang dibatasi atau bahkan dihentikan sama sekali sambil menunggu kondisi harga lebih stabil. Jika kondisi ini berlarut-larut, para perajin khawatir tidak mampu mempertahankan usaha mereka.

banner 336x280

Di tengah tekanan tersebut, sebagian perajin mencoba bertahan dengan berbagai cara. Ada yang melakukan inovasi desain, mengurangi penggunaan perak murni dengan teknik tertentu, atau memproduksi perhiasan berukuran lebih kecil agar harga jual tetap terjangkau. Sebagian lainnya memilih menaikkan harga jual untuk menyesuaikan biaya produksi. Namun langkah ini tidak sepenuhnya efektif. Kenaikan harga justru membuat pesanan menurun tajam, baik dari pasar ekspor maupun wisatawan yang selama ini menjadi salah satu segmen utama pembeli perhiasan perak Celuk. Permintaan dari luar negeri yang sebelumnya cukup stabil kini ikut tertekan akibat harga yang semakin tinggi dan ketatnya persaingan dengan produk dari negara lain.

Pelaku usaha di Celuk menilai situasi ini bukan sekadar persoalan ekonomi jangka pendek, tetapi juga berpotensi mengancam keberlanjutan kerajinan perak sebagai identitas budaya lokal. Kerajinan perak Celuk tidak hanya bernilai komersial, tetapi juga memuat pengetahuan turun-temurun, teknik tradisional, dan nilai seni yang menjadi bagian dari warisan budaya Bali. Jika banyak perajin berhenti berproduksi atau beralih profesi, dikhawatirkan regenerasi perajin akan terhambat dan keahlian tradisional perlahan menghilang. Kondisi ini juga berimplikasi pada berkurangnya daya tarik wisata berbasis budaya yang selama ini melekat pada Desa Celuk.

Para perajin berharap adanya perhatian dan dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah daerah maupun pemangku kepentingan terkait, untuk membantu mereka melewati masa sulit ini. Dukungan tersebut bisa berupa fasilitasi akses bahan baku dengan harga lebih terjangkau, bantuan permodalan, hingga penguatan promosi agar produk perak Celuk tetap memiliki pasar. Tanpa langkah mitigasi yang tepat, lonjakan harga perak dikhawatirkan akan terus menekan sektor kerajinan, yang pada akhirnya tidak hanya memukul ekonomi warga Celuk, tetapi juga menggerus salah satu identitas budaya Bali yang telah dikenal hingga mancanegara.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *